mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Cara Menerapkan Disiplin pada Anak Tanpa Marah dan Hukuman

Konten [Tampil]
Cara menerapkan disiplin pada anak tanpa marah dan hukuman

Senang sekali rasanya menjadi orang tua jika melihat anaknya bisa mandi tanpa harus berulang kali mengajak. Bisa melakukan semua kegiatan dengan tepat waktu dan tanpa alasan. 

Berarti hal yang perlu dilakukan adalah menerapkan disiplin pada anak sejak dini. Menerapkan disiplin pada anak memang perlu dilakukan oleh orang tua. Berharap dapat berperilaku baik, bisa melakukan banyak hal sendiri dengan mandiri dan sesuai dengan aturan lingkungan sekitar.

Namun tidak perlu heran pada anak usia dini seringkali tidak sesuai dengan aturan atau bahkan jadwal yang diinginkan. Seperti terdapat adegan anak berlari-lari di halaman masjid, anak yang merengek hingga menangis di Mall karena minta dibelikan mainan, atau berteriak di tempat umum lainnya.

Meski sudah diberitahu berulang kali masih terus dilakukan, bahkan semakin dilarang malah semakin dilakukan. Aku sebagai orang tua mencoba belajar dan melakukan riset kenapa mendisiplinkan anak usia dini terasa sulit. Karena aku terkadang merasa bingung harus bersikap bagaimana pada anak.

Jika mendisiplinkan anak dengan terlalu ketat bahkan memberikan hukuman kalau tidak menurut, khawatir anak menjadi penakut. Tapi sebaliknya, jika terlalu santai khawatir anak merasa bebas dan bisa melakukan semaunya. Sebenarnya dalam mendisiplinkan anak banyak yang perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi anak. Sebelum mengetahui bagaimana cara menerapkan disiplin pada anak, kita ketahui disiplin yang dimaksud pada anak usia dini itu seperti apa. 

Disiplin Pada Anak Usia Dini

Arti kata disiplin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tata tertib, kepatuhan pada sebuah peraturan. Disiplin pada anak usia dini berarti perilaku anak untuk patuh dan mentaati semua peraturan yang ada di lingkungannya.

Sedangkan di dalam buku Developmentally Appropriate Practices,self discipline is the Voluntary, internal regulation of Behavior menjelasan mengenai disiplin. Menurut Kostelnik dan kawan kawan disiplin adalah sebuah sikap perilaku sukarela tanpa ada paksaan yang melakukan keteraturan internal tanpa ada paksaan.

Disiplin anak usia dini

Dapat disimpulkan disiplin merupakan sebuah sikap dan perilaku terhadap nilai-nilai dan aturan yang berlaku di lingkungan termasuk dalam keluarga. Tidak jarang aku kerap melihat alih-alih ingin anak disiplin, sesuai aturan tetapi dengan cara ancaman dan marah pada anak.

Disiplin bukanlah suatu sikap yang dilakukan dengan terpaksa, dan bisa dilakukan secara tiba-tiba. Apalagi orang tua dengan sikap suruh-suruhan pada anak berharap anak bisa nurut dan disiplin sesuai keinginannya. 

Menurut Maria Montessori, disiplin berasal dalam diri sendiri secara alami. Saat anak sudah dapat berkonsentrasi dan fokus dengan baik yang dilakukan secara konsisten dan berulang kali. Disiplin akan terbentuk dengan sendirinya karena biasa dilakukan. Maka, sebagai orang tua perlu menanamkan disiplin tanpa hukuman, tanpa hadiah ataupun bersikap marah agar anak disiplin.

" Orang tua mengajarkan disiplin untuk kebaikan pada anak bukan agar anak menjadi pasif, penurut, dan hanya diam"

Aku belajar melalui kelas parenting, disana menjelaskan bahwa sebagai orang tua ingin anaknya menjadi penurut dan selalu berkata iya. Namun, hal itu menjadi sebuah tanda kemusnahan pada diri anak. Kemusnahan jatidiri anak, anak menjadi pendiam, tidak percaya diri dan tidak memiliki antusias pada sesuatu. 

Aku rasanya seperti tertampar dengan kalimat itu. Bahwa aku sendiri masih beranggapan bahwa anak harus menjadi penurun dan mengikuti apa yang aku anggap baik. Karena ternyata perlu juga melihat perspektif pada diri anak.

Hal Penting Sebelum Menerapkan Disiplin

Sebelum menerapkan disiplin pada anak perlu memberikan aturan dan kesepakatan bersama yang akan berlaku di rumah. Karena penting ini dilakukan akan memberikan batasan pada anggota keluarga termasuk untuk anak-anak. Agar mengetahui hal apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Kesepakatan ini bisa berupa kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan. Untuk menciptakan kegiatan yang teratur dan bisa dilakukan dengan baik. 

Menurut Maria Montessori, disiplin pada anak berhubungan erat dengan periode sensitif anak pada keteraturan. Karena pada dasarnya anak senang dengan keteraturan. Seperti keteraturan pada rutinitas, tempat, penempatan barang dan lingkungan sekitar. 

Keteraturan apa yang biasa dilakukan pada anak sejak dini? Bisa dimulai semejak bayi seperti tepat waktu untuk menyusu, rutinitas sebelum tidur dengan mengganti pakaian dan popok terlebih dahulu, cara untuk tidur dan banyak lainnya. Karena sejak bayi akan sensitif terhadap rutinitas sehari-hari apabila ada perubahan anak akan menyadarinya dan akan memberikan reaksi bentuk protes. Oleh karena itu, keteraturan pada anak dipengaruhi oleh sisi ekternal dan sisi internal.

Sisi ekternal merupakan rutinitas atau sebuah sikap yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar ataupun orang lain.

Sisi Internal merupakan kegiatan atau sebuah sikap yang datang dari dalam diri anak sendiri.

Rutinitas yang teratur akan berjalan dengan baik apabila dibuat dengan adanya kesepakatan bersama di rumah. Beberapa contoh rutinitas yang aku terapkan di rumah, seperti :

  • Sebelum tidur malam, membersihkan diri cuci tangan dan kaki, mengganti pakaian untuk tidur, buang air kecil, dan menggosok gigi
  • Setiap waktu makan, dilakukan bersama di meja dan makan dengan keadaan baik
  • Membiasakan cuci tangan sebelum dan sesudah makan
  • Sore hari waktu bermain bersama di luar rumah, pulang tidak lebih dari jam 6 atau saat di masjid sudah terdengar mengaji menjelang waktu maghrib
  • Setelah bermain, mainan yang sudah digunakan di rapihkan pada tempatnya masing-masing.

Kesepakatan ini dibuat agar dapat mendorong anak melakukan rutinitas sehari-hari dengan baik, tanpa ada paksaan dan hadir karena di dalam dirinya sendiri. Kemudian hari akan mendapatkan manfaat yang lebih, dimana anak memiliki kemandirian yang baik.

Oleh karena itu,ada hal yang perlu diperhatikan saat membuat kesepakatan rutinitas untuk anak, yaitu sesuaikan dengan usia dan kebutuhan dasar.

Kebutuhan dasar (makan, waktu tidur dan aktivitas) bayi dan anak balita akan berbeda. Apalagi anak terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Sehingga setiap anak pasti memiliki perbedaan. 

Nah, saat ini aku memiliki dua orang anak yang memiliki perbedaan usia, mereka memiliki rutinitas yang berbeda juga. Aku berusaha memberikan rutinitas sesuai dengan usia dan kebutuhan dasar setiap anak, seperti rutinitas tidur siang. 

Saffa yang usianya 1 tahun masih memerlukan 2 kali tidur siang, maka aku akan memberikan waktu tidur siang di jam 10 dan jam 3 sore. Sedangkan, zaara sudah hampir 4 tahun cukup membutuhkan 1 kali tidur siang sekitar 1-2 jam.

Disiplin Bukanlah Hukuman dan Ancaman

Disiplin bukan hukuman dan ancaman

Ingat saat ini banyak sekali kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua sendiri. Terdengar sangat miris sekali, tapi kenyataanya seperti itu. Dengan berbagai alasan yang ada, sering kali karena orang tua yang kelelahan dengan pekerjaan, menjadi emosi yang tidak terkontrol bahkan sampai memberikan hukuman pada anak. Karena merasa anak tidak menurut hingga ngeyel. 

Sebagai manusia biasa sebenarnya emosi merupakan hal yang wajar. Namun, penting untuk mengendalikan emosi dengan baik. Agar anak tidak menjadi korban.

Orang tua yang ingin mendisiplinkan anak perlu menghindari sikap dan perilaku tidak baik, antara lain :

  • Bersikap keras pada anak sehingga anak menjadi takut pada orang tua
  • Menunjukan sikap terlalu lembut dan menuruti semua keinginan anak tanpa mempertimbangkan lebih dulu, sehingga anak bisa menjadi manja
  • Memberikan ancaman atau menakuti anak, misalnya jika anak tidak mau makan nanti diculik sama petugas kebersihan
  • Memberikan hukuman pada anak baik secara non fisik yang melukai perasaannya ataupun secara fisik seperti mencubit ataupun menjewer
  • Memarahi anak ketika anak melakukan kesalahan, misalnya anak menumpahkan air secara tidak sengaja langsung memarahinya.

Semua hal yang diatas perlu diperhatikan merupakan bukan perilaku dan sikap dalam mendisiplinkan anak secara positif. Bukannya anak menjadi disiplin kemungkinan yang terjadi anak akan terluka perasaan dan fisiknya.

"Anak tumbuh disiplin bukan karena kepatuhan atau ketakutan, melainkan karena kesadaran dan kepedulian” - Najelaa Shihab

Disiplin pada anak terletak pada perilaku, sikap dan tindakan orang tua pada anak. Bukan pada teriakan dan hukuman yang diberikan. Karena disiplin akan hadir dengan sendirinya karena terbiasa dilakukan oleh anak.

Tips Mendisiplinkan Anak 

Anak akan disiplin bukan dengan cara instan dan cepat. Bukan pertama diberikan sebuah aturan dan kesepakatan anak bisa berhasil terus melakukannya. Perlu konsisten dan dilakukan secara berulang. Nah berikut tips yang bisa dilakukan untuk anak dapat disiplin tanpa harus orang tua marah dan memberikan hukuman.

1. Tetap Tenang dan Tidak Bereaksi Berlebihan

Anak cenderung melakukan sebuah tindakan yang berlebihan karena mencari perhatian dari orang yang lebih dewasa. Maka, kita berusaha agar tetap tenang dan tidak terpancing kemarahan secara berlebih. Biasanya aku memberikan jeda beberapa menit, saat melihat sikap yang menurut aku berlebihan. Jeda tersebut aku gunakan untuk menyadari napas dengan menghitung saat menarik napas dan buang napas hingga 5 kali hitungan. Dengam begitu, aku dapat bersikap lebih baik dan tidak memberikan reaksi berlebihan.

Awalnya mengalami kesulitan saat melihat anak bermain dengan semua mainan berserakan membuat rumah berantakan dan dibiarkan begitu saja. Ingin rasanya aku menyuruh anak membereskan segera semua mainanya. 

"Mainanya berantakan sekali, ini semua dikeluarkan. Kamu nakal sekali membuat rumah berantakan, Cepat bereskan mainanya!"

Tapi hal tersebut tidak efektif, anak menjadi disiplin saat bermain. Pertama, kiita perlu bersikap lebih tenang dan tidak bereaksi berlebihan agar anak bisa paham juga.

Coba berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan jelas pada anak untuk meminta anak membereskan mainanya.

"Kalau sudah selsai bermain, ayo bereskan mainanya dan taruh di tempat asalnya"

2. Buat Aturan dan Kesepakatan Bersama 

Jika menginginkan anak bersikap dan melakukan aktivitas yang baik maka perlu membuat sebuah aturan dan kesepakatan bersama dengan batasan yang jelas. Anak akan lebih paham dengan aturan yang jelas dan tetap memberikan kebebasan agar anak tetap bisa berkembang sesuai usianya.

Seperti aku memberikan kesempatan anak bermain di luar rumah setiap sore hari. Dengan syarat kondisi cuaca tidak hujan. Saat bermain di luar rumah anak bebas memilih ingin bermain apa, bisa bermain sepeda atau ditaman. Misalnya anak memilih bermain sepeda, aku akan menunjukan batasan boleh bermain sepeda sampai mana dan tidak terlalu jauh dari jangkauan pandangan. Tentu memperhatikan lingkungan sekitar, jika ada motor atau mobil yang melintas, aku meminta anak untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Agar tetap bersepeda dengan aman.

3. Konsisten Kunci Utama

Salah satu keberhasilan anak menjadi disiplin karena hadir dari kesadaran diri sendiri dan tidak ada paksaan. Penting adanya konsisten saat menjalankan aturan. Konsisten merupakan kunci utama kesuksesan sebuah tujuan yang ingin dicapai.

Aku ingin anak-anak memiliki rutinitas yang wajib dilakukan sebelum tidur yaitu bersih-bersih dan menyikat gigi. Agar anak disiplin melakukannya setiap hari, perlu latihan dan dilakukan secara berulang konsisten diajarkan. Anak akan menjadi terbiasa dan disiplin karena kesadaran diri sendiri. 

4. Berikan contoh yang sesuai

Menginginkan anak bersikap dan perilaku baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Anak akan melihat apa yang biasa terlihat oleh mereka. Tugas orang tua memberikan contoh yang sesuai juga. Sehingga aturan dan kesepakatan yang dibuat bukan hanya berlaku untuk anak-anak, namun orang tua juga perlu mematuhinya.

Anak Bukanlah Orang Dewasa Mini

Perjalanan hidup seorang manusia merupakan sebuah perjalanan yang panjang dimulai dari 0 hari dalam kandungan. Memerlukan proses selama pertumbuhan dan perkembangannya secara bertahap.

Seorang bukanlah orang dewasa mini yang langsung paham dan bisa melakukan banyak hal dengan satu kali. Semuanya membutuhkan proses secara bertahap. Selama proses tersebut tidak langsung berhasil akan ada dimana anak melakukan sebuah kesalahan.

Anak yang baru terlahir di dunia dalam 5 tahun pertama kehidupannya, masih sering mengalami kebingungan dengan apa yang dirasakan dan perilaku yang dilakukan. Belum paham mana hal yang benar dan tidak benar. Maka anak perlu dibimbing supaya anak paham.

Sebagai orang tua memiliki peran penting untuk membantu anak agar anak menghadapi masalah yang terjadi. Beritahu hal yang perlu dilakukan saat kakak merusak mainan adiknya yang menyebabkan adik menangis. Bantu kakak untuk memperbaiki mainan dengan kemampuannya dan memberitahu penjelasan dengan bahasa jelas perasaan adik. Bukan dengan memarahi kakak karena telah membuat adik menangis.

Kesimpulan

Disiplin pada anak bisa ditanamkan sejak dini dengan rutinitas yang dilakukan sehari-hari. Namun perlu diingat bahwa anak masih dalam masa proses belajar dalam kehidupan, masa pertumbuhan dan perkembangan menjadi seorang dewasa. Tentu sikap dan perilaku pada anak akan terjadi kesalahan selama proses.

Konsisten menjadi kunci utama untuk melakukan rutinitas yang teratur pada anak. Agar anak dapat disiplin karena kesadaran dalam dirinya sendiri. Bukan karena paksaan dari orang tua. Orang tua yang baik perlu melihat pandangan seorang anak agar tetap tenang tanpa perlu memberikan hukuman atau marah saat anak melakukan kesalahan. Selama proses anak belajar menjadi disiplin.

Referensi :

http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Ebook seri pendidikan orang tua - disiplin positif


Related Posts
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar