mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Senang Susah Tinggal di Batam

Konten [Tampil]

 

Senang Susah Tinggal di Batam

Bulan Mei 2024, tepat 2 tahun saya tinggal di Batam bersama keluarga kecil.

Kota Batam adalah salah satu kota yang terletak di Kepulauan Riau. Batam menjadi kota pertama dan terjauh saya tinggali. Lokasinya memiliki banyak keindahan alam yang ditawarkan, paling terkenal tentu adalah wisata pantai. 

Alasan Tinggal di Batam

Sewaktu saya dan suami baru menikah, kami langsung tinggal di rumah orang tua suami. Awal pernikahan, saya masih menjadi karyawan swasta. Berangkat pagi pulang malam, waktu bersama hanyalah malam hari. Weekend pun jarang, karena saya bekerja shifting yang liburnya bukan di hari weekend. 

Suatu hari, saya dan suami deep talk bersama. Kami membahas impian ingin memiliki rumah sendiri dengan usaha kami, tinggal merantau dan belajar mandiri. Agar lebih nyaman kami merawat dan mendidik anak dengan pilihan kami. 

Alhamdulillah,

Allah mendengar harapan dan impian kami.

Suami mendapatkan pekerjaan baru di kota Batam. Bermodal menjual motor dan beberapa aset di tangerang. Kami pindah ke kota Batam dengan mantap. Selama proses perpindahan ke Batam tidaklah semulus yang dibayangkan. Tetap ada aja lika-likunya. Walaupun begitu, alhamdulillah kami melaluinya dengan baik.

Tantangan Merantau di Batam

Tantangan pertama saat tinggal di Batam adalah masalah tempat tinggal. Saya dan suami tidak memiliki teman ataupun saudara yang tinggal di Batam. Modal nekat dan berani langsung saja pergi ke Batam.

Awalnya suami yang berangkat lebih dulu dan mencari kos-kosan. Sebulan kemudian saya dan anak-anak menyusul. Suami perlu bekerja cepat di Batam, tapi saya minta izin untuk pulang ke rumah orang tua dan berlama tinggal lebih dulu untuk obat kangen nanti.

Kembali lagi ke tempat tinggal, suami bermodalkan dengan informasi melalui grup facebook untuk menemukan rumah kontrakan. Benar saja, tempat tinggal yang kami sewa ternyata berada di kavling atau semacam perkampungan di Batam. Jalan yang masih tanah merah, jauh kemana-mana, dan suasana sepi penduduk. 

Bulan ke 4 tinggal di Batam, saya dan suami memutuskan mencari rumah kontrakan baru. Lagi-lagi kami kurang teliti, rumah yang kami tinggali memiliki masalah air. Air hanya hidup di malam hari dan kemudian mati di pagi hari. Jadi sepanjang pagi sampai malam hanya mengandalkan air tampungan. Saya tidak betah dan merengek minta pindah lagi walaupun baru tiga hari. 

Alhamdulillah, langsung dapat rumah kontrakan yang nyaman, lingkungan tenang, sudah ramai penduduk karena di dalam perumahan dan akses jalan utama dekat. Kami mendapatkan rumah kontrakan yang sekarang kami tinggali dengan cara mencari sendiri dengan keliling. 

Hidup merantau itu berat tapi candu itulah artikel yang pernah saya buat sebelumnya. Hidup merantau memang berat dan banyak tantangannya. Tapi rasanya candu alias nagih banget karena senang menjalaninya. Perasaan lebih bahagia, anak- anak tetap sehat dan jarang sakit. Alhamdulillah.

Kenapa Tinggal di Batam Menyenangkan?

Tinggal di Batam itu sangat menyenangkan. Karena kalau mau liburan untuk menikmati wisata pantai itu bisa dilakukan kapan saja. Lokasi pantai sangat dekat dengan tempat tinggal, banyak pilihan pantai yang bisa dikunjungi. 

Wisata pantai ini bisa jadi liburan setiap akhir pekan yang murah meriah. Hanya modal tiket masuk Rp 5,000 untuk orang dewasa dan anak-anak gratis. Modal sedikit tapi perasaan langsung fresh lagi karena melihat pemandangan laut yang indah.

Kalau dibilang betah atau tidak tinggal di Batam? Jawabannya betah. Namun, rasanya homeless banget. Rasanya rindu ingin pulang kampung. Tapi kalau mengingat tiket pulang kampung itu nggak murah, apalagi saya punya banyak personil. Harus memiliki persiapan yang cukup. Selain itu, kalau pulau kampung hanya untuk 3-7 hari rasanya sayang banget. Ingin rasanya lebih lama tinggal di kampung halaman.

Meskipun begitu, banyak sekali pelajaran dan kejadian baru yang pertama kali saya dapatkan. Istilahnya culture shock karena tinggal di Batam. Ada banyak kebiasaan dan tradisi yang berbeda dengan Jabodetabek. Wajar saja, dari lahir sampai kerja kehidupan saya hanya muter-muter di Jabodetabek.

Senang dan susah tinggal di Batam, seberat apapun itu. Ini takdir saya dalam menjalani hidup. Harus tetap terus berusaha dijalani. Manusia seharusnya akan tetap mampu bertahan hidup dalam kondisi bagaimanapun. 

Related Posts
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar