mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Hidup Merantau Itu Berat tapi Candu

Konten [Tampil]

Hidup merantau sebenarnya bukan hal asing yang dilakukan. Biasanya orang merantau itu karena ada keperluan, seperti keperluan sekolah, kerja, atau hal lainnya. Hidup merantau berarti hidup jauh dari orang tua dan keluarga. Dengan merantau ternyata akan banyak mengalami rasa suka dan duka.

Hidup merantau itu berat tapi candu

Inilah Ceritaku Selama Merantau

Aku sendiri merantau juga sebenarnya sudah tidak merasa asing. Semasa kuliah dulu aku merantau. Orang tua tinggal di sukabumi, sedangkan aku kuliah di Jakarta. Walaupun jarak antara jakarta - sukabumi masih dekat, tidak perlu sampai berhari-hari. Cukup 5 jam perjalanan naik bus antar kota. Sekarang malahan sudah semakin terasa dekat, karena ada kereta api pangrango bogor - sukabumi hanya butuh 2 jam. Tidak perlu lagi merasakan macet dijalan. 

Dulu waktu kuliah aku pulang pas libur semester atau kadang pulang pas weekend saat ada libur 3 hari. Awal kuliah di jakarta muncul rasa panik, takut, dan bingung. Tinggal di Kota baru sendirian tanpa mengenal siapapun saat itu. Perlu banyak adaptasi lingkungan, kebiasaan hingga masalah makan.

Teringat dulu, pertama kali makan warteg alias warung tegal duh aku melihat sebelah mata. Bahwa makan di warteg itu jorok, makanan tidak higienis, dan tidak bikin selera makan. Seiring berjalan waktu mengenal banyak tempat makan, memang makan di warteg paling enak dan hemat kantong. Maklum anak kuliah harus bisa belajar mengatur keuangan.

Aku terus berlanjut tinggal di Jakarta sampai bekerja dan mendapatkan jodoh. Berjarak dengan orang tua sudah seperti hal biasa. Kalau kangen tinggal telpon atau pulang menggunakan kereta api. Semuanya mudah dilakukan dan berjalan lancar. 

Semua Berubah Setelah Menikah

Setelah menikah aku tinggal di rumah mertua kota Tangerang. Tahun ke 3 pernikahan suami mendapatkan pekerjaan baru di Batam. Rasanya campur aduk saat itu. Senang karena suami mendapatkan pekerjaan lebih baik. Muncul juga rasa bingung karena akan tinggal jauh sekali di kota yang tidak pernah aku kunjungi. 

Pertama datang tinggal di Batam aku mengalami banyak hal unik dan culture syok. Banyak sekali kebiasaan yang berbeda saat tinggal di pulau jawa. Perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru terutama dengan tetangga baru. Walaupun kebanyakan orang yang tinggal di Batam adalah orang perantau, tapi mereka sudah lebih lama tinggal. 

Sempat mengobrol dengan beberapa orang yang baru aku kenal. Mereka bilang kalau sudah merasakan tanah batam, pasti betah dan tidak mau pulang lagi. Aku berpikir ah masa iya sampai tidak mau pulang lagi. 

Ternyata itu yang dirasakan aku sekarang, sebenarnya tinggal di Batam sangat nyaman. Tinggal di kontrakan seadanya, benar-benar mulai dari nol. Jadi merasakan perjuangan hidup sebenarnya. 

Rasa Rindu Pasti Datang

Rindu pada keluarga

Bukan berarti menjadi seorang perantau semuanya terasa nyaman dan enak. Bukan juga ingin merasa bebas dari keluarga. Pasti setiap orang merasakan ingin bebas dan tidak ada yang memberikan komentar pada hal yang kita lakukan. Yap, hal itu yang menjadi enak hidup merantau. Tidak perlu ambil pusing dengan komentar yang akan datang dari keluarga. 

Karena enaknya hidup merantau jadi lupa sama keluarga. Tentu tidak ya, karena rasa rindu pasti datang setiap saat. Saat tubuh lagi lelah, jenuh dengan keseharian yang dilakukan. Rasa rindu itu hadir selalu, rasa rindu ingin bercengkrama dengan keluarga secara langsung. Memang kalau kangen tinggal mengirim pesan, telepon, bahkan video call. Tapi rasanya akan beda kalau jarak berjauhan. 

Rindu bersama keluarga untuk bercanda, ngobrol, bahkan rindu kena omelan pun sampai ada. Hehe apa itu aku saja yang merasakan? Pasti seorang perantau tahu bagaimana rasa rindu itu datang. 

Bukan Hanya Rindu yang Berat, Tapi

Merantau tinggal di kota yang jauh berbeda dengan keluarga itu cukup berat. Bukan hanya rindu yang berat, tapi ada yang lebih berat. Berat apabila mendapatkan kabar kurang baik tentang keluarga. 

Seperti beberapa waktu lalu, aku mendapatkan pesan mengenai kabar kesehatan semua orang tua kurang baik. Rasa sedih karena tidak bisa hadir. Bahkan, saat duka itu datang pada ayah sambung aku, pecah rasa sedih aku. Hanya bisa menangis dan rindu di tempat perantauan. Tidak berdaya, cukup menatap layar handphone menanyakan update kabar dari keluarga yang hadir. 

Saat sedih, khawatir, hingga duka datang kenapa tidak pulang saja? 

Kalau aku menjadi diri yang egois memikirkan diri sendiri, bisa saja aku langsung pesan tiket pesawat untuk berangkat pulang. Namun, aku harus banyak memikirkan kedepannya. Biaya yang diperlukan tidaklah sedikit,  terlebih aku masih memiliki bayi. Perlu juga aku mempersiapkan kenyamanan anak. 

Semua rasa yang hadir aku tumpahkan saat sholat. Bagaimanapun, Allah yang memberikan ujian semua ini. 

Setelah kejadian itu, aku berdoa dan berharap agar bisa hadir di kemudian hari apabila ada kejadian seperti ini lagi. Karena rindu itu berat dan sungguh sesak di dada. Berdoa dan meminta kepada Allah untuk di kuatkan dan selalu diberikan hati yang lapang. 

Manfaat Hidup Merantau

Bagi yang ingin merantau tenang tidak perlu khawatir dan takut. Bukan berarti merantau itu hanya akan sedih, rindu dan khawatir. Hidup merantau bisa memberikan manfaat pada diri sendiri. Dengan merantau menjadi bisa mengartikan perjuangan hidup sebenarnya. 

Menjadi Mandiri

Sekarang banyak yang memberikan label bahwa anak jaman sekarang adalah anak manja. Sedikit-dikit minta sama orang tua bahkan minta di temenin. Dengan hidup merantau belajar menjadi mandiri. Menjadikan semuanya bisa melakukannya dengan sendiri. 

Hal itu aku rasakan awal merantau, mau makan perlu usaha dulu. Dulu kalau di rumah, mau makan ya tinggal makan saja. Kalau pas merantau, cari makanan sendiri yang sudah jadi, atau kalau lagi hemat aku suka masak. 

Merantau membuat aku pribadi bisa melakukan semuanya sendiri. Berpergian sendiri tanpa perlu khawatir selama perjalanan itu juga berkat dari merantau. 

Belajar Banyak Hal Baru

Selain bisa melakukan secara mandiri, merantau memberikan banyak memberikan pelajaran baru. Seperti belajar bahasa daerah yang digunakan, kebiasaan lingkungan disekitar, masih banyak lagi. Apalagi kalau tinggal di Batam banyak sekali hal unik yang aku temui. Seperti tradisi saat lebaran Idul Adha yang pertama kali aku rasain. Kalau disini Idul Adha rasanya seperti lebaran Idul Fitri, perlu keliling ke tetangga dan ke rumah keluarga terdekat untuk silahturahmi. 

Duh, jadi kangen dengan hal yang biasa dilakukan dengan keluarga. Walaupun lebaran masih jauh, aku tetap semangat tinggal di tanah rantau. Semoga tahun depan ada rezeki untuk pulang, temu kangen bersama keluarga. 

Buat teman-teman adakah yang mau merantau juga? Atau seperti aku sedang merantau? Semoga sehat selalu dan tetap semangat ya. 

Related Posts
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar