mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Bubur Ayam 'Bejo' Batu Besar Obat Rasa Rindu

Konten [Tampil]

 

Bubur ayam obat rasa rindu

Bubur ayam, siapa yang tidak tau dengan makanan satu ini. Salah satu makanan yang biasa disantap untuk di pagi hari. Bubur merupakan makanan yang berbahan dasar dari nasi yang dimasak dengan banyak air sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan berair.

Saya selama tinggal di Batam belum menemukan bubur ayam yang cocok di lidah. Pasalnya penjual bubur ayam di sekitar rumah cukup berbeda dari biasa yang saya makan. Bubur ayam jakarta atau bubur ayam bandung yang biasa saya makan. 

Bubur ayam yang ada di dalam bayangan saya, nasi lembut dan berair dipadukan dengan sedikit kuah kuning yang gurih dan tambahan topping di atasnya. Topping favorit saya yaitu cakwe, ayam suwir, kacang kedelai, sedikit bawang goreng dan daun seledri.

Namun, betapa kagetnya saya mencoba bubur ayam di Batam sangat berbeda dari biasa saya makan. Bubur ayam yang pernah saya coba menggunakan kuah kari yang sangat banyak, sampai memenuhi satu mangkuk. Topping yang diberikan memang tidak jauh berbeda, hanya ada satu membuat jidat saya berkerut. Bubur ayam dengan topping ikan teri. Kebayang kan rasanya bagaimana jadi muncul rasa amis di dalam buburnya.

Saya cukup sedih, belum bisa merasakan bubur ayam yang enak versiku. Padahal menu andalan buat sarapan saya ya bubur ayam. 

Bubur Ayam "Bejo"

Bubur ayam 'bejo'

Tapi sekarang saya sudah tidak sedih lagi, karena saya menemukan bubur ayam "bejo" sebagai obat rasa rindu. Apalagi kalau sedang rindu dengan keluarga di Pulau Jawa sana. Loh kok bisa? Bubur ayam kok jadi obat rasa rindu?

Akhir bulan Desember 2023 kemarin, saya tidak sengaja ketemu penjual bubur pangkalan. Lokasinya persis di sebelah Toko Universal, Batu Besar, kecamatan Nongsa, Kota Batam. 

Penjualnya di depan rumah dengan menggunakan gerobak sederhana. Di samping gerobak tersebut terdapat papan nama Bubur Ayam "Bejo". 

Sebenarnya, saya sempat ragu untuk membeli bubur ayam lagi. Apalagi terakhir beli rasanya tidak cocok dengan lidah saya. Namun, atas rekomendasi teman suami, bahwa bubur ayam ini enak. Selain itu, penjualnya buka dari pagi sampai malam. Agar rasa penasaran saya terobati, maka saya menguatkan tekad untuk membelinya.

Kesan Pertama di Warung Bubur Ayam "Bejo"

Kesan pertama datang ke warung bubur ayam "bejo" yaitu sederhana. Bapak penjualnya sangat ramah, saya menebak bahwa bapak penjual bubur ayam "bejo" asli orang bandung. Karena saat menanyakan mau pesan bubur, logat sunda masih terpancar jelas.

Benar saja, saya ajak ngobrol sedikit dan bertanya asal dari mana. Beliau berasal dari Bandung. Wah, tidak perlu diragukan lagi nih. Bubur ayam "bejo" asli dibuat oleh orang Bandung. Saya tidak sabar mencobanya.

Saya pesan 3 Porsi bubur ayam untuk makan di tempat. Di warung bubur ayam 'bejo' tersedia beberapa tempat duduk untuk makan di tempat. Warung makan sederhana yang dibuat seadanya di depan rumah tempat tinggalnya. Cukup dikasih atap dan menjual buburnya pakai gerobak.

Ternyata tidak hanya menjual bubur ayam, di sini juga menjual berbagai aneka lauk. Namun, untuk menu lainnya akan tersedia di siang hari. Sedangkan, bubur ayam sudah dijual dari jam 6 pagi sampai jam 10 malam.

Review Bubur Ayam "Bejo"

Review bubur ayam bejo

Pesanan bubur ayam kami telah siap. Sebelumnya bapak penjualnya bertanya apakah pakai kuah. Saya pesan 2 porsi menggunakan kuah dan 1 porsi tidak menggunakan kuah. 

Tampilan bubur ayam "bejo" ini benar-benar sesuai dengan ekspektasi saya. Serius saya sangat kangen sekali dengan tampilan bubur seperti ini. Walaupun saya sedikit kaget, karena dikasih kuah sangat banyak. Padahal saya membayangkan kuahnya cukup sedikit saja. Karena masih menyesuaikan dengan masyarakat disini, senang makan bubur dengan kuah yang banyak.

Rasanya bagaimana? Enak? 

Menurut saya enak dan lebih baik dari pada bubur ayam yang pernah saya beli di Batam. Rasanya mendekati bubur ayam bandung. Karena masih mengadaptasi dengan selera masyarakat disini, jadi tidak sepenuhnya asli bubur ayam bandung.

Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Bubur ayam ini bisa menjadi alternatif untuk saya jika kangen dengan bubur ayam bandung.

Bubur ayam "bejo" bisa menjadi pilihan untuk sarapan di pagi hari kalau sedang malas masak. Atau bisa untuk menu malam hari, jika ingin makan tapi tidak mau makan berat. 

Bubur nasi dari bubur ayam "bejo" ini tekstur cukup lembut, cukup kental sehingga tidak terlalu berair atau tidak cepat encer. Dari buburnya saja sudah ada rasa gurih yang nikmat. Toping yang diberikan sangat banyak, jadi tidak khawatir kurang.

Satu hal yang berbeda yaitu sambal. Biasanya sambal untuk bubur ayam yaitu sambal cabe merah yang peras agak kental. Namun, disini sambal yang disediakan yaitu sambal hijau. Jadi rasanya tidak terlalu pedas. 

Saya coba milik suami yang tidak menggunakan kuah, menurut saya kurang pas gurihnya. Karena rasa gurihnya akan lebih nikmat tambahan dari kuah kari.

Sejarah Bubur

Bubur menjadi makanan yang tidak asing untuk kita semua. Bubur biasa dikonsumsi oleh semua kalangan, mulai dari bayi, anak-anak hingga orang dewasa. Pasti senang makan bubur. Ternyata bubur memiliki sejarahnya. 

Dilansir dari laman kumparan.com, bubur pertama kali dikonsumsi oleh masyarakat Tiongkok sejak sebelum masehi. Konon katanya, awal mula bubur hanya dikonsumsi untuk orang sakit karena baik untuk pencernaan. Karena teksturnya yang lembut dan cair.

Seiring berjalannya waktu, konsumsi bubur mulai berinovasi. Dengan adanya berbagai toping dan kuah. Maka, di Indonesia terkenal lah dengan bubur ayam.

Perdebatan Bubur Diaduk vs Bubur Tidak Diaduk

"Bubur kok gak diaduk? Nanti bumbunya tidak terasa"

"Bubur kok diaduk, tercampur semua seperti itu, jadi berantakan dan terlihat tidak enak"

Pernah mendengar perdebatan ini? Apa kalian pernah ikut membahasnya? Atau menetapkan bahwa kalian tim yang mana? Hehe

Sebenarnya saya merupakan tim bubur tidak diaduk semenjak punya anak. Karena kalau melihat makanan yang diaduk-aduk terbayang anak yang sedang makan sendiri dengan berantakan. Jadi tidak nafsu makan. Mungkin yang senang makan bubur tidak diaduk lebih mementingkan penampilan terlebih dahulu. 

Mau makan bubur diaduk atau tidak diaduk akan tetap merasakan kenikmatan yang sama dari rasa bubur. Hanya membedakan dari cara makan. Dari cara makan keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal mau yang mana kita pilih dan di senangi.

Bubur Ayam Obat Rindu

Bubur ayam merupakan menu makanan yang pasti saya konsumsi setiap hari. Teringat saat hamil anak pertama, bubur ayam menjadi makanan wajib. Sarapan pasti makan bubur ayam, malam hari kalau sedang malas makan nasi. Saya lebih memilih bubur ayam. 

Sesuka itu saya dengan bubur ayam, sehingga setiap makan bubur ayam di Batam. Membuka memori kebiasaan saya sebelum tinggal di Batam. Kalau di ingat, betapa rindunya dengan bubur ayam jakarta atau bubur ayam bandung.

Maka, menurut saya pribadi bubur ayam "bejo" menjadi obat rasa rindu kampung halaman. Mengingat setiap pagi, beli bubur ayam lalu makan bersama di rumah. Sambil rebutan kerupuk ataupun gorengan. 

Kalau ditanya, apa akan beli terus bubur ayam ini? Saya jawab: iya. Menjadi makanan obat rindu dan tentunya dekat dari rumah.

Related Posts
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar