mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua dengan Minim Trauma

Konten [Tampil]


Assalamualaikum...

Alhamdulillah atas ijin Allah aku udah melahirkan anak kedua. Kurang lebih 3 minggu yang lalu atau bertepatan tanggal 18 Oktober 2022.

Alhamdulillah anak kedua aku berjenis kelamin perempuan, yang kami beri nama Saffana Almaira Tsania.

Aku mau berbagi pengalaman yang aku rasakan ketika melahirkan anak kedua. Proses melahirkan kali ini sangat cepat dan nyaman. Hal itu tidak disangka bisa aku lewatin, sampai saat ini pun aku masih bersyukur sudah melewatinya.

Ikhtiar yang dilakukan selama Kehamilan

Kegiatan ikhtiar aku dimulai dengan lebih serius semenjak umur kandungan sekitar 8 bulan lebih. Setiap minggu saat suami libur aku minta di antar kan ke alun-alun batam untuk jalan disana. Tapi pertama datang ke alun-alun aku enggak jalan, karena agak kaget ramainya, dan malahan lebih banyak ngeliatin orang lain olahraga dan lari.

Berikutnya aku daftar kelas prenatal yoga private online bersama bidan annisa di midcare. Aku seneng banget punya kesempatan dan rezeki untuk daftar kelas yoga, karena selama ini aku latihan yoga hanya berbekal dari video gratis di youtube. Walaupun awalnya kelasnya online, karena aku lebih ingin latihan prenatal yoga nya tatap langsung, karena jarak dan biaya nya lebih, jadi aku putuskan ambil private online aja. 

Tanggal 28 September 2022 merupakan kelas pertama online yang aku lakuin bersama bidan annisa. Alhamdulillah bisa ketemu sama bidan yang satu frekuensi, bidan yang mendukung lahiran secara gentle birth menuju persalinan yang nyaman dan minim trauma. 

Sebelum melakukan olahraga, aku di berikan materi dan berdiskusi bersama mengenai kehamilan dan persiapan lahiran. Luar biasa alhamdulillah ilmunya sangat bermanfaat banget, semakin belajar ternyata masih banyak yang belum aku ketahui. Setelah pemaparan materi aku melakukan prenatal yoga dimulai dari latihan pernapasan, pemanasan, gerakan inti, kemudian relaksasi dengan mendengarkan rekaman hypnobirthing. Alhamdulillah sekali lagi aku bersyukur banget setelah melakukan prenatal yoga yang dipandu langsung lebih kerasa di badan dan seger.



Biasanya aku melakukan gerakan yoga di selang-seling kegiatan pekerjaan rumah, mengurus dan mengajak main anak pertama. Tidak jarang gerakan yoga sambil main-main sama anak pertama, jadi kurang terasa manfaat dari gerakannya.

Nah, setelah aku selesai latihan, aku mendapatkan tanda untuk lahiran. Apa itu? Lendir yang tercampur darah, tapi darahnya masih sedikit banget. Aku pun masih santai melihatnya, dihati aku bergumam. Alhamdulillah ya dek, kamu udah kasih tanda, bisa jadi dalam beberapa hari kita bentar lagi bertemu.

Ternyata yang terjadi?

Ternyata setelah lendir darah itu, tidak ada tanda lain lagi. Tanda seperti kontraksi yang teratur ataupun darah yang keluar lagi. Masih adem aja hehe.

Awalnya sempet khawatir, waduh kok gak muncul tanda atau kontraksi lagi ya? Aku pun mencoba rileks dan tetap beraktifitas biasa.

Pada akhirnya aku lupa dari kekhawatiran aku. Karena pengalaman dari yang pernah aku baca di website atau youtube bidan kita, jangan panik saat tanda lahiran sudah ada karena belum tentu adik bayi mau langsung lahiran tapi hanya memberikan 'kode' ke ibu kalo sebentar lagi loh mau bertemu (lahiran).

Jadi aku tetap rileks dan beraktifitas biasa karena kontraksi belum teratur. Salah satu cara agar aku merasa rileks setiap waktu mandi aku selalu pakai air hangat, ini sangat bermanfaat banget untuk ibu hamil yang sudah tinggal nunggu waktu lahiran. Otot-otot seluruh tubuh rasanya rileks dan segar banget, jadi setiap jalanin aktifitas berikutnya bikin seger.

17 Oktober 2022

Aku masih beraktifitas seperti biasa bersama anak pertama aku. Setiap pagi aku jalan pagi ke depan komplek untuk membeli sarapan ataupun hanya sekedar jalan-jalan pagi bersama anak pertama. Sepanjang hari senin kontraksi palsu pun datang masih jarang menurutku dan rasa kontraksi itu masih bisa aku tahan. setiap kontraksi palsu datang biasanya aku coba aktifitas fisik. Salah satunya bermain gymball, berjalan bolak balik di dalam rumah, ataupun melakukan gerakan jongkok.

Malam hari pun masih seperti biasa, mengajak anak pertama bermain sampai tidur. Aku masih bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak seperti biasa.

18 Oktober 2022

Proses melahirkanku dimulai dari jam 02.30 WIB. Aku terbangun di tidur malam nyenyak ku. Hal pertama dipikiranku, aku merasa mulas seperti ingin buang air besar (BAB) tapi saat aku terbangun dan sadar, rasa mulasnya berbeda. Aku merasakan sakit sekujur perutku, aku amati rasa yang muncul.

“Nah ini dia nak, kamu kasih tanda ya nak mau lahir, alhamdulillah yuk kita nikmati prosesnya dengan lembut” ujarku ke adik bayi di perut.

Kontraksi datang perlahan tapi pasti, aku menikmati kontraksinya sambil nonton youtube tentang film komedi agar pikiran tetep tenang, tidak terlalu memikirkan rasa sakit datang.

Perlahan tapi pasti rasa sakit dan kontraksinya semakin dekat dan kencang. Aku merasakan sakitnya sampai ke tulang punggung.

Aku ingat ketika proses melahirkan anak pertama, pas udah kontraksi intens rasanya sampai ke punggung. Akhirnya aku mencoba membangunkan suami.

"Papih aku udah mules-mules nih kontraksi"

Setengah sadar suami pun menjawab "alhamdulillah tenang itu masih aman, paling besok lahirannya"

Di pengalaman dia, karena pas anak pertama agak lama prosesnya jadi dia masih tenang aja. 

Aku udah mulai uring-uring an karena saking sakitnya. Aku melakukan beberapa kegiatan agar bisa menyamankan rasa sakitnya. Mulai dari jalan mondar mandir di rumah, main gymball muter panggung, bouncing di gymball, sampai jongkok pun aku lakuin.

Aku putuskan ingin mandi air hangat agar semakin nyaman. Kenyataannya saat mandi air hangat, kontraksi datang aku sangat tak tahan rasa sakitnya, aku sampai lemas dan hanya bisa jongkok di kamar mandi. Setelah kontraksi hilang, ternyata keluar darah segar cukup banyak, bukan lagi flek ataupun lendir darah.

Aku segera membangunkan suami. Suami langsung panik dan bingung karena kaget cepat banget prosesnya. Kontraksi datang sangat cepat jaraknya, sampai membuat aku tidak bisa di ajak ngobrol. Aku tetap berusaha untuk mengatur napas agar bisa mengelola rasa sakitnya.

Waktu tiba kita sudah siap ingin berangkat ke klinik, ada sedikit perdebatan sama suami. Suami ingin kita berangkat dengan mobil online, tapi aku menolak. Aku udah tidak bisa menahan rasa sakitnya.

Aku berkata ke suami, "langsung aja kita berangkat naik motor". langsung lah kita berangkat ke klinik dengan motor byson suami.



Kebayang dong ya? Lagi hamil gede, mules- mules kontraksi, naik motor ini hehe. Pengalaman banget deh luar biasa.

Perjalanan ke klinik untuk bersalin dekat dari rumah hanya butuh 5 menit. Kami berangkat ke klinik sekitar jam 4 pagi. Sepanjang perjalanan di motor pun ada percakapan yang menjadi kenangan banget. Karena panik dan buru-buru suami tidak sempat pakai jaket. Udara sangat dingin banget,  suami berusaha ngebut karena aku mengeluh sakit kontraksinya tapi ketika ngebut udara dingin dan membuat mengigil buat aku berdumel.

"Papih jangan ngebut-ngebut, dingin banget tau"

Tidak lama berselang kontraksi datang, aku mengeluh dan rasa ingin mengejan muncul.

"Papih.. Sakit banget.. Duh aduhh mulesss pengen ngejen gimana"

Suami langsung lebih cepat bawa motornya, kemudian aku mengeluh lagi dingin, begitu saja berulang percakapan kami sepanjang perjalanan ke klinik. 

Saat tiba di klinik, aku langsung masuk ke ruangan bersalin. Bidan yang jaga saat itu bidan junior, bukan bidan yang biasa aku kontrol kehamilan. Tidak masalah yang penting aku cepat di bantu pertolongan, karena rasa mulas nya tidak tertahankan.

Aku dicek detak jantung bayi, tensi dan cek pembukaan. Pembukaan sudah lengkap, tapi aku belum boleh mengejan karena bidan - bidan juniornya harus perlu menyiapkan kebutuhan lahiran. Sempat 3-4 kali kontraksi aku tahan, ketika mereka udah siap aku pun di persilahkan mengejan saat kontraksi datang.

Kurang lebih 15 menit aku berusaha mengejan, alhamdulillah adik bayi meluncur dengan baik. Kejutan saat keluar adalah adik bayi keluar dengan posisi kepala posterior atau telentang atau bisa dibilang muka terlebih dahulu. MasyaAllah, walaupun posisi tersebut kalo lahiran di rumah sakit tidak jarang di sarankan operasi. Karena sampai di klinik sudah pembukaan lengkap, aku hanya langsung di pandu untuk mengejan tidak sempat pemeriksaan mendalam seperti usg untuk cek posisi bayi.



Alhamdulillah atas izin Allah, semua prosesnya di mudahkan sama Allah. Lahir dalam keadaan sehat, tidak kurang satu pun. Aku tidak ada keluhan pasca melahirkan dan adik saffana dalam keadaan sehat dan fisik normal semua.

Alhamdulillah, tidak menyangka telah melewatinya. Semua yang aku merasakan sangat minim trauma tanpa ada intervensi medis apapun, mulai dari proses kontraksi sampai proses mengejan untuk melahirkan sangat dimudahkan atas izin Allah.

Next, aku akan cerita dan sharing pengalaman aku bagaimana dan apa saja ikhtiar yang aku lakukan, bisa melawati ini semua. Dengan kejutan dari adik saffana lahir dengan posisi posterior atau telentang.

Penutup

Nah itulah cerita pengalaman aku selama proses menuju kelahiran saffana. Alhamdulillah luar biasa sangat mudah, nyaman, dan minim trauma atas izin Allah. Insya Allah, kalau kita berdoa dari awal kehamilan, meminta ke Allah seperti apa proses kelahiran nanti, insya allah akan di permudah jalannya. Jangan lupa selain berdoa, kita pun harus berusaha menuju kelahiran yang minim trauma sesuai yang kita harapan.




 














 


Related Posts
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar