mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Affiliate Marketing Sudut Pandang Ibu: Dari Scroll Hingga Menghasilkan

Affiliate Marketing Sudut Pandang Ibu: Dari Scroll Hingga Menghasilkan

Siapa disini yang membuka marketplace ingin membeli sesuatu, tapi tidak kunjung cekout? Malahan terus scrolling melihat produk lainnya. Ini hal sederhana, tapi bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Aktivitas ini terlihat seperti biasa saja, bukan hal istimewa. 

Sampai suatu waktu, saya mengenal dunia konten kreator dan affiliate. Saya melihat marketplace bukan untuk membeli kebutuhan saja, tapi menjadi peluang ekonomi digital. 

Dimana saat ini, hampir semua marketplace memiliki program afiliasi yang bisa diikuti. Dengan persyaratan yang cukup mudah, hanya bermodal hp, internet, dan kemauan untuk memulai. Bisa menjadi peluang yang menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan.

Apalagi saat ini kebiasaan masyarakat saat ini mempunyai perubahan yang signifikan. Puncaknya saat Covid 2020 lalu, mau tidak mau memaksa banyak orang untuk melakukan banyak aktivitas secara online. Termasuk cara belanja dan transaksi semuanya dilakukan secara online.

Affiliate Marketing Pilihan Favorit Semua Kalangan

Beberapa waktu lalu, saya menonton podcast INDEF tentang Affiliate Marketing Indonesia : Peluang, Tantangan, dan Dampak bagi Ekonomi. 

Pada podcast ini pembahasannya sangat menarik, memberikan saya insight lebih luas lagi dan keyakinan untuk terus maju masuk di affiliate marketing. Kurang lebih 1 tahun, saya memutuskan mencoba terjun untuk jadi affiliate shopee khususnya shopee video. Memang belum mendapatkan penghasilan yang besar, tapi melihat hasil yang didapatkan saat ini cukup menarik.

Affiliate Marketing

Tidak dipungkiri, saya pun bisa tetap melanjutkan menulis blog ini berkat subsidi silang dari penghasilan affiliate. Tapi sempat muncul keraguan tentang affiliate ini. Karena kalau melihat di sosial media, sudah banyak orang yang terjun di affiliate. Saya merasa memiliki saingan yang sangat besar.

Sekilas pemikiran saya, “ah sudah banyak sekali orang yang menjadi affiliate, kalau begini caranya gimana saya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih menarik lagi?”

Namun, setelah mendengarkan podcast INDEF, saya justru malah semangat dan yakin untuk terus menekuni affiliate. Kenapa?

  • Melihat peluang perkembangan teknologi saat ini, hampir semua dilakukan secara digital.
  • Kebiasaan masyarakat saat ini juga lebih ingin melakukan transaksi secara praktis dan cepat. 
  • Masyarakat sangat berpengaruh dengan hal yang viral, pasti langsung banyak orang yang ikut-ikutan (FOMO) untuk membelinya, ingin mencobanya secara langsung.

Dari hal tersebut jelas menjadi potensi cukup besar. Spesialnya lagi, untuk menjadi affiliate bisa dilakukan oleh siapapun tanpa memandang latar belakang. 

Seorang ibu rumah tangga biasa juga sudah bisa menjadi affiliate, minimal bisa merekomendasikan sebuah produk lewat status whatsapp loh.

Bahkan, sekarang sudah banyak influencer yang masuk ke ranah affiliate. Jelas menunjukan bahwa affiliate marketing ini mempunyai hasil yang menjanjikan.

Khususnya sekarang shopee affiliate, sudah banyak melakukan kerja sama dengan berbagai platform sosial media. Jadi, hampir semua platform tersebut bisa digunakan untuk tempat mempromosikan produk. Seperti : 

  • Instagram sudah bisa menautkan link keranjang pada reels
  • Youtube, saat ini sudah ada program Youtube Shoping. Melalui konten youtube short bisa menautkan link pada video.
  • Facebook, kita bisa menautkan link keranjang di reels, postingan, ataupun kolom komentar

Dan, kira-kira platform mana lagi yang bisa teman-teman ketahui untuk bisa digunakan dalam pembuatan konten afiliasi?

Bukan Sekedar Side Income, tapi Pintu Masuk Ekonomi Digital

Berdasarkan informasi data ketenagakerjaan, sebanyak 21 Juta pekerja penuh waktu, memiliki pekerjaan sampingan baik secara offline maupun online

Hal ini memiliki indikasi kenapa banyak pekerja mencari side income, antara lain : tekanan kebutuhan rumah tangga tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Oleh karena itu, banyak orang yang mencari tambahan penghasilan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

Saat ini banyak yang memilih menjadi affiliate marketing, karena kemudahan dalam cara kerjanya. Secara garis besar, cara kerja affiliate adalah membantu mempromosikan produk untuk dipasarkan ke masyarakat, jika ada transaksi terjadi maka akan mendapatkan komisi.

Selain itu, kelebihan dari pekerjaan ini bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Waktu bekerja bisa tentukan sendiri, sesuai dengan keadaan sendiri. Seperti saya sebagai ibu rumah tangga, mengambil waktu anak tidur siang atau malam hari baru memulai membuat konten. Jadi, sangat fleksibel dan mudah dilakukan. 

Ketika affiliate dilakukan secara konsisten dan fokus, bukan hanya menjadikan side income. Tapi sudah ada sebagian banyak yang menjadikan pekerjaan penuh / utama. Sehingga, menjadi pintu masuk awal dari ekosistem ekonomi digital.

Dari Affiliate Marketing, Ibu Belajar Upgrade Skill Digital yang Baru

Skill Digital Untuk Konten Kreator

Ketika pertama nyemplung di affiliate, saya hanya berpikir sekadar menyebar link saja. Ternyata saya salah, banyak hal yang perlu dipelajari. Agar bisa membuat sebuah konten yang menarik dan dipercaya oleh audiens.

Sampai saat ini, saya masih memilih masuk ke pembuatan konten video yang upload langsung di marketplace (shopee, tiktok). Itu saja menurut saya, banyak hal yang perlu diketahui cara yang tepat secara teknis.

Tanpa sadar, saya dipaksa untuk terus upgrade skill digital. Ketika satu video yang diupload tidak mendapatkan views, saya pun bertanya-tanya.

Apakah ada yang salah dari video konten tersebut?

Apakah video saya tidak menarik? Apakah video saya kurang jelas?

Dari pertanyaan yang saya lontarkan untuk diri sendiri ini, menjadi langkah awal saya belajar. Skill apa saja yang dibutuhkan untuk bisa menghasilkan sebuah konten video menarik? 

Semakin saya masuk di affiliate marketing, semakin saya menyadari bahwa di balik video yang menarik, menghasilkan jumlah penonton yang tinggi. Ada proses yang perlu dilewati dulu. Bahkan, satu video yang berdurasi tidak lebih 30 detik, bisa saja menghasilkan ratusan hingga jutaan, karena memiliki struktur yang tepat. Dari sana lah, saya belajar beberapa kemampuan yang harus di upgrade, antara lain :

1. Mempelajari Copywriting 

Ketika mempromosikan sebuah produk bukan hanya menyebutkan nama barang dan fungsi barang tersebut. 

Namun, saya membutuhkan kata yang bisa membuat audiens berhenti scroll dan mendengarkan penjelasan dari video yang saya buat. Sehingga, audiens benar-benar tertarik, merasa terbantu, sampai akhirnya memiliki alasan untuk membeli produk melalui promosi yang saya lakukan.

Pertama yang dibutuhkan adalah hook atau kalimat pembuka sebagai pengait agar audiens itu tertarik. Sebenarnya, hook juga dibutuhkan pada sebuah artikel blog. Tapi strategi yang dilakukan berbeda untuk video terjadi pada 3 detik pertama.

Selanjutnya, menyusun kalimat penjelasan secara singkat dan jelas tapi sudah bisa menggambarkan secara detail dari produk yang dipromosikan. Hingga menentukan kalimat call to action yang menarik tanpa memberikan pemaksaan kepada audiens.

Saya menyadari bahwa mempelajari copywriting bukan hanya menyusun sebuah kata-kata menarik. Melainkan, copywriting adalah bagaimana memberikan sebuah pesan yang mudah dan singkat dipahami oleh audiens.

2. Teknik Videografis

Kemampuan yang tidak kalah penting untuk ditingkatkan yaitu teknik video grafis. Saya mulai memperhatikan bagaimana cara take video yang tepat, agar bisa menghasilkan video yang jernih, fokus pada produk, bagaimana pencahayaan yang dibutuhkan, dan masih banyak lagi.

Memang bukan ekspert, tapi perlahan tapi pasti kemampuan dalam pengambilan gambar video jadi lebih baik dari sebelumnya. Agar bisa menghasilkan visual yang menarik dan sesuai keinginan.

3. Cara Membuat Konten dan Teknik Editing

Setelah mengetahui apa yang ingin disampaikan, bagaimana pengambilan gambar videonya, kemudian saya harus belajar mengelola semuanya untuk dijadikan menjadi sebuah konten dengan teknik editing yang tepat.

Jangan sampai memberikan efek editing yang berlebihan jadi terkesan ‘norak’, cukup menggunakan efek dan fiturnya dengan simpel. Sehingga bisa mempercantik konten yang dihasilkan. 

4. Riset Produk

Ternyata menjadi affiliate tidak bisa sembarangan mempromosikan produk. Ini menurut pandangan saya ya. Kenapa bisa begitu?

Karena mempromosikan sebuah produk tanpa kita sendiri mengetahui secara jelas manfaat produk tersebut, akan lebih sulit. Jadi bukan hanya sekedar “yuk beli produk ini ya”

Tapi, bagaimana kita bisa memberikan rekomendasi produk yang bisa menjawab dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh audiens. Lebih mengutamakan kebermanfaatan dari produk tersebut.

Selain itu, perhatikan juga produk yang dipromosikan itu aman. Misalnya, sedang mempromosikan makanan. Pastikan makanan tersebut mengandung bahan yang aman dikonsumsi, memiliki izin BPOM, dan halal. Jangan sampai merekomendasikan produk yang keamanannya saja belum diketahui kepastiannya.

5. Riset Pasar dan Memahami Audiens

Seharusnya riset pasar dan memahami audiens bisa menjadi bagian pertama yang perlu dipelajari, tapi sebagian orang berpendapat audiens itu akan terus berkembang sebagaimana pembuatan konten.

Pengalaman saya, audiens itu menjadi bagian utama dalam pembuatan konten. Target pasar apa yang kita inginkan, disanalah kita perlu memahami apa yang dibutuhkan oleh audiens.

Misalnya, saya menargetkan audiens untuk perempuan yang sudah menikah, di usia 30 - 40 tahun. Jadi, saya mulai mencari masalah apa yang biasanya mereka hadapi, produk apa saja sih yang saat ini mereka butuhkan di saat usia sekarang. Kerucutkan kembali target yang diinginkan, misalnya pada masalah fashion / pakaian. Kira-kira baju seperti apa ya yang dibutuhkan usia menengah seperti ini. Jangan sampai target di usia 30 tahunan, tapi memberikan rekomendasi produk yang biasa digunakan anak sekolah.

6. Membangun Personal Branding

Tidak kalah penting kemampuan yang terus harus dikembangkan adalah personal branding. 

Saat ini masyarakat bukan hanya memperhatikan produk dari sebuah brand tertentu saja. Tapi, siapa yang menggunakan produk tersebut. Pernah beberapa kali ada yang viral, contoh viral video menunjukan fuji menggunakan cushion dari sebuah brand. 

Karena yang digunakan adalah seorang influencer yang sudah banyak dikenal, penampilannya juga yang cantik. Secara tanpa sadar, banyak masyarakat yang juga ikut penasaran membeli dan menggunakan produk yang digunakannya.

Kurang lebih konsep seperti itu dalam membangun personal branding. Agar kita bisa dipercaya ketika mempromosikan sebuah produk. Kita tunjukan dahulu, kita membangun personal branding seperti apa yang ingin ditampilkan. Tidak perlu yang terlihat harus sempurna, cukuplah tunjukan dirimu yang punya ciri khusus yang berbeda dari lain. Sehingga, orang lain juga percaya ketika kamu membuat konten.

7. Evaluasi Data dan Performa Konten

Sebelumnya setelah membuat konten, hanya memperhatikan berapa view, berapa like yang dihasilkan. Tapi setelah menjadi affiliate, merangkap juga menjadi seorang analisis.

Bagaimana menganalisis dari data yang dihasilkan sebelumnya, performa yang dihasilkan dari konten yang sudah dibuat. Hal apa saja yang perlu diperbaiki, apa yang harus dipertahankan, agar performa dari komisi / penghasilan yang didapatkan sesuai dengan target yang diinginkan.

Nah, setelah benar-benar terjun menjadi affiliate marketing. Bukan hanya sekedar share link ke sosial media, lalu langsung dapat komisi. Tidak semudah dari konsep dasar yang dijelaskan.

Masih banyak kemampuan yang perlu terus dikembangkan, agar bisa menghasilkan komisi yang menarik.

Penutup

Pada akhirnya secara sudut pandang seorang ibu rumah tangga tentang affiliate marketing adalah untuk mendapatkan komisi yang menarik butuh kemampuan yang kompleks. Untuk bisa menghasilkan ekonomi digital, harus melalui proses belajar, momen konten sepi audiens, melakukan riset produk yang tepat, hingga mengevaluasi hal apa yang perlu diperbaiki.

Affiliate marketing bukan hanya sekedar mempromosikan sebuah produk untuk dibeli oleh audiens. Melainkan perjuangan seseorang, khususnya ibu rumah tangga yang mencoba punya side income. Namun, tetap ada kemauan dan semangat untuk belajar, berkarya, dan mengambil bagian peran dalam dunia digital, khususnya pada ekosistem ekonomi digital.

Dari awalnya scroll untuk belanja, sekarang scrolling untuk belajar dan berkarya untuk mendapatkan penghasilan.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah sudah ada yang mencoba fokus affiliate marketing? Sharing di kolom komentar ya. Terima kasih semoga bermanfaat.

Related Posts
Terbaru Lebih lama
Amicytia Nadzilah
istri, ibu dari dua anak perempuan dan seorang wanita pembelajar menjadi blogger profesional. Tinggal merantau di pulau sebrang singapura, belajar mandiri dan menulis cerita pengalaman yang dilalui.

Related Posts

Posting Komentar