Orang lain akan melihat hasil karya video yang hanya beberapa detik saja atau paling lama 2 menit, foto yang hanya ditambahkan dengan beberapa kalimat, ataupun satu artikel yang terlihat simpel dan bisa dibaca dalam hitungan detik. Namun, mereka tidak pernah tahu berapa lama mata yang sudah diperjuangkan untuk menghasilkan karya yang terbaik.
Tanpa sadar saya paham, sebuah karya yang dihasilkan oleh seorang konten kreator sangatlah berharga. Karena dibalik satu karya ada perjuangan yang harus dilakukannya. Mulai dari mencari ide, merancang konten, membuat konten, editing, memposting konten, sampai melihat hasil konten apakah performa yang dihasilkan memuaskan.
Saya ibu rumah tangga yang memutuskan menjadi seorang blogger dan konten kreator, karena punya anggapan bahwa pekerjaan ini sangatlah mudah. Bisa dilakukan di rumah, kapan saja waktunya, bisa dimana saja, tanpa harus meninggalkan rumah dan mengabaikan anggota keluarga.
Setelah menjalaninya, Saya memiliki sedikit kesalahan dalam pandangan tersebut, padahal saat memutuskan menjadi seorang blogger dan konten kreator saya sedang memperjuangkan kesehatan mata sendiri.
Bagaimana tidak, mata selalu terus bekerja dan digunakan sejak pagi sampai larut malam. Seringlah mata Sepet muncul, mata yang terasa gatal dan tidak nyaman akibat kurangnya istirahat.
Berkarya Menjadi Rutinitas Harian Saya
Ibu rumah tangga mana sih yang nggak punya rutinitas?
Aslinya rutinitas sebagai ibu rumah tangga saja sudah segudang banyaknya. Mulai membereskan rumah, mencuci, memasak, mengurus anak-anak dan suami, Benar kan?
Jujur karena termakan dengan informasi di sosial media, katanya ibu rumah tangga bisa produktif dengan berkarya dan menghasilkan uang hanya dirumah saja. Saya pun ikut terjun di dunia digital ini. Padahal ya kalau dipikir lagi, ibu rumah tangga mana yang tidak produktif?
Produktif itu tidak selamanya harus menghasilkan uang. Produktif merupakan salah satu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan dengan memberikan suatu manfaat. Misal, mencuci pakaian kan juga termasuk produktif kan? Manfaat yang didapatkan baju-baju jadi bersih dan wangi.
Dengan segudang aktivitas itu, saya masih menambahkan waktu untuk berkarya secara digital. Saya mulai membuka laptop ataupun smart handphone untuk mencari inspirasi membuat konten hari ini ataupun membuat list konten yang sudah direncanakan sebelumnya.
Pada siang hari, setelah menjemput anak sekolah dan memastikan mereka sudah selesai makan siang. Saya langsung bersiap untuk merekam video ataupun menulis satu draft artikel yang sudah direncanakan sebelumnya.
Lanjut sore hari, saya berkegiatan sama anak-anak seperti jalan-jalan ataupun hanya sekedar bermain di dalam rumah. Terus berlanjut sampai anak-anak masuk ke waktu tidur malam. Setelah anak-anak sudah tidur malam, semua pekerjaan rumah selesai juga. Saya bukannya ikut istirahat untuk tidur. Melainkan, melanjutkan membuka laptop.
Saya habiskan waktu malam untuk waktu me time terbaik, setelah lelahnya mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan semua kebutuhan anggota keluarga, dan lainnya. Waktu seperti ini menjadi berharga, karena daripada muncul overthinking hal yang tidak bermanfaat. Sebaiknya, dimanfaatkan untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat.
Saya habiskan waktu malam untuk mengedit, menyelesaikan sebuah artikel, membuat caption dan kebutuhan lainnya untuk posting konten, sampai hanya sekedar membalas komentar dari postingan di sosial media.
‘Rekan Kerja’ di Balik Layar, Selalu Ada Mata
Mungkin hanya sekedar menghasilkan konten yang hanya untuk dinikmati beberapa detik. Cukup bermodalkan sebuah handphone semua bisa selesai dengan mudah. Nyatanya, mata bekerja secara lebih kompleks dibandingkan apa yang dibayangkan.
Mata menjadi rekan kerja yang selalu ada di setiap hasil karya konten yang sudah dibuat. Dengan mata, saya bisa memastikan pesan yang ingin disampaikan sesuai menggunakan bahasa yang ringan dan jelas, membuat konten yang menarik secara visual untuk menarik daya tarik banyak orang, hingga mengecek performa dari konten yang dihasilkan.
Kenyataannya, mata hampir tidak benar-benar istirahat. Justru dia bekerja lebih banyak agar semua apa yang mau saya kerjakan bisa selesai dengan baik.
Dari Perjuangan yang Sudah dilakukan, Akhirnya Membuahkan Hasil
Kurang lebih 4 tahun, sejak 2022 saya terjun dalam dunia blogger, 2 tahun menyelam menjadi konten kreator di sosial media untuk membangun personal branding, sekaligus 1 tahun masuk menjadi kreatoe affiliate. Dari apa yang diusahakan, konsistensi dalam membuat konten selama ini saya lakukan, akhirnya menunjukan hasil yang cemerlang.
Pada suatu hari yang terlihat biasa saja, saya membuka aplikasi yang biasa digunakan untuk membuat konten affiliate. Konten yang sudah saya posting beberapa waktu lalu, mendapatkan perfoma yang jauh lebih baik sehingga bisa menghasilkan penjualan yang lebih besar dari biasanya.
Hari demi hari, penjualan mulai stabil. Maka, komisi yang bisa saya dapatkan lebih banyak dari biasanya.
Bahkan, artikel yang ada di personal blog ini sebagai cerita perjalanan anadzilah mulai satu persatu masuk ke dalam mesin pencarian google. Artinya, artikel yang saya buat sudah pantas, layak dan sesuai dengan SEO friendly dimana bisa menjawab pertanyaan dari pengguna yang membutuhkan jawaban tepat.
Bahagia dan Bangga Bahwa Saya Mampu
Sebagai konten kreator, momen seperti ini menjadi sebuah hadiah dari pencapaian apa yang selama ini saya lakukan.
Karena untuk bisa sampai pada titik seperti ini, bukan hal yang mudah. Banyak yang saya perjuangkan, mulai dari waktu tidur, menambah waktu belajar untuk bisa upgrade skill yang dibutuhkan, belajar riset sebuah masalah, dan masih banyak lainnya.
Saya merasa bangga dan bahagia atas pencapaian saat ini. Seorang perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga, mampu bisa tetap menghasilkan karya yang bermanfaat untuk orang lain.
Saat seperti ini, menjadi momen yang paling sudah dinantikan. Kebahagiaan karena konten yang sudah dibuat selama ini, membuahkan hasil yang membanggakan.
Namun, tanpa saya sadari. Tubuh ini yang sudah memasuki usia kepala 3, memberikan sinyal beberapa kali bahwa sedang tidak baik-baik saja. Tapi masih saja waktu itu saya beranggapan bahwa itu adalah hal yang biasa terjadi.
Keberhasilan Itu Datang, Mata SePeLe Justru Mulai Mengganggu
Awalnya tidak pernah merasa ada yang aneh pada mata saya.
Hanya saja merasa tidak nyaman pada mata, mungkin karena kelamaan menatap layar. Batinku berkata seperti itu. Wajar saja kan, saya selalu menghabiskan waktu malam untuk berselancar di sosial media, menulis artikel untuk blog, ataupun sekedar melihat notifikasi dari hasil konten yang sudah di posting sebelumnya.
Apalagi saya suka melakukan menatap layar handphone pada ruangan yang redup dan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Mata terasa sepet, tidak nyaman, rasanya seperti ngantuk tapi sebenarnya belum ngantuk. Saya coba jeda sebentar untuk mengistirahatkan mata. Paling hanya hitungan detik, saya mengucek mata. Tapi setelah itu saya tetap menatap layar sampai benar-benar terasa ngantuk dan ingin tidur.
“Mata mulai terasa berair, Ah Mungkin karena kurang tidur. Sekarang juga sudah larut malam, sepertinya saya harus selesaikan pembuatan konten hari ini lebih cepat”
Padahal ya, sinyal mata sudah menunjukan sudah tidak baik-baik saja. Tapi saya masih terus memaksakan diri untuk menyelesaikan yang sedang dikerjakan. Bukannya berhenti untuk langsung istirahat.
Keesokan paginya, saat bangun tidur.
“Mata kok berat banget ya, mau buka mata kok kayaknya ngantuk banget. Padahal sudah jam segini, saya hampir telat untuk menyiapkan sarapan”
Kelamaan, saya merasakan ada yang tidak beres pada mata.
Mata terasa semakin perih. Tidak lama terasa juga mata kok lelah banget, sering berair, dan ingin berkedip terus.
Gejala Mata SePeLe, Terus Saya Abaikan
Saya terus mengabaikan gejala mata Sepet, Perih, dan Lelah. Ternyata yang saya rasakan ini merupakan gejala umum mata kering atau dry eye syndrome.
Selama ini saya hanya fokus apa yang sedang dikerjakan, menunggu hasil terbaik, menganggap diri ini harus terus menghasilkan karya dan produktif.
Kenyataannya saya mengabaikan kesehatan mata yang sangat berarti ini. Mata adalah panca indera penting untuk bisa menjalankan hari-hari dengan baik. Untuk bisa melihat semua apa yang sedang dikerjakan.
Gejala mata SePeLe yang terus terabaikan ini, apakah kalian juga pernah merasakannya seperti saya?
Mata sepet, dimana kondisi mata terasa berat banget, kadang terasa ada yang mengganjal padahal tidak ada apa-apa.
Mata Perih, ketika berkedip seakan ada yang menusuk ataupun ada sensasi terbakar. Rasa perih ini biasanya disebabkan pada lapisan mata kekurangan pelumas/ cairan alaminya.
Mata Lelah (Eyestrain), mata terasa berat menjadi kelelahan akibat mata terus bekerja terlalu keras dan terlalu lama.
Semua gejala tersebut, selalu dianggap SePeLe dan biasa. Paling kalau istirahat dan tidur bisa langsung seger lagi matanya. Kenyataannya tidak semudah itu, apabila kalian sudah mengalami mata kering. Karena dengan munculnya gejala berulang, bisa saja mengganggu aktivitas harian dan membutuhkan perawatan khusus.
Mengapa Konten Kreator Rentan Mengalami Mata Kering?
Setelah mengalami kejadian tersebut, saya mulai mencari tahu penyebab apa yang sedang dialami.
Berdasarkan informasi dari beberapa artikel halaman website jec (Jakarta Eye Center) menjelaskan gejala yang saya alami hampir mirip dengan sindrom mata kering (dry eye syndrome).
Kondisi tersebut secara umum disebabkan karena terlalu lama menatap layar dan memiliki kebiasaan buruk saat membaca ataupun menggunakan gadget. Sehingga frekuensi berkedip cenderung berkurang dari biasanya.
Dari informasi dr. Jessica Zarwan, Sp. M(K) pada postingan instagram @rspremier_jatinegara menyatakan bahwa dalam keadaan normal, mata manusia frekuensi berkedip dalam satu menit yaitu sebanyak 15- 20 kali. Namun, beda ceritanya bagi orang yang memiliki kebiasaan dan waktu lebih banyak di depan layar. Maka, frekuensi mata berkedip lebih rendah bisa hanya 3-5 kali kedipan saja.
Ternyata aktivitas yang terlalu banyak menatap layar itu bisa menyebabkan air mata cepat menguap, sehingga mata menjadi kering. Apalagi rata-rata orang Indonesia menghabiskan 7-8 jam sehari di depan layar, di mana angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata global.
Selain itu, paparan cahaya biru atau blue light dari layar digital yang digunakan secara terus - menerus bisa dapat memperburuk gejala mata kering.
Dari semua penjelasan itu, jelas tidak bisa dihindari seorang konten kreator sangat rentan mengalami mata kering. Termasuk saya sendiri, yang bergelut di dunia digital ini.
Karena semua aktivitas dilakukan dengan bantuan mata, tanpa menggunakan mata, kita belum tentu bisa menghasilkan karya yang diinginkan.
Tidak heran, jika mata menjadi salah satu bagian tubuh yang bekerja paling keras setiap hari.
Langkah Sederhana, Namun Dapat Meredakan Gejala Mata Kering
Munculnya gejala mata sepet, mata perih, dan mata lelah pada diriku. Memberikan saya pelajaran penting, tetap kesehatan itu menjadi nomor 1 untuk diutamakan.
Boleh produktif, boleh menghasilkan karya, boleh membuat konten. Tapi jangan sampai mengorbankan mata sampai harus bekerja sangat keras.
Apabila waktu lalu saya terus mengabaikan gejala mata SePeLe, bisa saja saya bisa mengalami hal yang lebih serius. Hal yang paling terasa apabila terus mengabaikan gejala mata kering yaitu menjalankan aktivitas harian jadi tidak nyaman. Mata akan terasa lebih cepat lelah saat menatap layar, sulit fokus, pandangan mata sering kali kabur / buram. Sehingga, bisa mengganggu produktivitas. Bukannya menghasilkan sebuah karya malah tubuh jadi drop dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Oleh karena itu, mulai sekarang saya melakukan beberapa langkah sederhana saat bekerja. Untuk mengurangi gejala mata SePeLe, agar tetap bisa produktif dan berkarya dengan optimal.
1. Batasi Waktu Menatap Layar.
Walaupun pekerjaan yang dilakukan mengharuskan menggunakan handphone maupun laptop. Tetap berikan batasan waktu harian untuk bekerja. Agar tidak berlebihan membuat mata bekerja terlalu berat.
2. Berkedip Lebih Sering.
Sadari, rasakan dan biasakan untuk berkedip. Secara tidak sadar jika kita sedang menatap layar kadang jarang berkedip. Oleh karena itu, sadari untuk lebih sering berkedip.
3. Atur Cahaya Layar dan Ruangan.
Pada layar gadget kurangi agar tidak terlalu terang. Termasuk cahaya ruangan pastikan cukup terang. Jangan pernah menatap layar pada ruangan yang gelap. Karena kebiasaan ini kurang baik jika terus dilakukan.
4. Hidari Angin Secara Langsung.
Baik angin luar ataupun angin dari kipas, AC, atau lainnya. Karena angin yang langsung terkena mata bisa mempercepat penguapan air mata.
Jika sedang bekerja, istirahat mata secara teratur. Saat ini, sudah ada metode 20-20-20 yang bisa digunakan apabila mengharuskan bekerja dalam waktu lama untuk menatap layar. Dimana, setiap 20 menit saat menatap layar, alihkan pandangan mata ke objek dengan jarak 20 kaki atau 6 meter, selama 20 detik
Gunakan air mata buatan. Menggunakan tetes mata bisa jadi pilihan tepat untuk bantu agar mata selalu punya kelembaban yang cukup. Salah satu tetes mata yang selalu saya andalkan adalah Insto Dry Eyes. Karena menggunakan kandungan yang hampir mirip dengan air mata asli.
Insto Dry Eyes, Solusi Tetap Produktif dan Berkarya
Meskipun sudah membiasakan diri dengan langkah sederhana untuk menghindari gejala SePeLe pada mata. Tapi mata kering tidak dapat dihindari juga, beberapa kali muncul juga gejala mata kering. Selain karena pekerjaan yang menumpuk ataupun saat deadline.
Akhirnya, saya menemukan tetes mata yang cocok untuk bantu selalu kelembaban pada mata, agar tidak mudah muncul gejala mata Sepet, Perih, dan LElah.
Insto Dry Eyes, tetes mata yang mengandung bahan aktif dimana punya fungsi sebagai air mata buatan. Memiliki manfaat untuk memberikan efek pelumas pada mata. Punya fungsi seperti air mata, selain itu cocok digunakan setiap mengalami gejala mata kering.
Cara penggunaannya juga sangat mudah dan praktis. Karena selalu sedia Insto di rumah sebagai solusi agar saya tetap bisa selalu produktif dan berkarya.
Untuk mendapatkan produk insto juga sangat mudah, bisa didapatkan dimana saja. Termasuk minimarket yang ada di rumah seperti Indomaret. Jadi tidak perlu lagi jauh-jauh untuk mendapatkan #instodryeyes
Ketika sudah muncul gejala Mata Kering Jangan Disepelein, langsung Tetesin Insto Dry Eyes sebanyak 1-2 tetes pada mata yang terasa kering. Insto dry Eye efektif bisa bantu mengurangi gejala mata kering karena mengandung bahan aktif yang aman. Bisa digunakan 3-4 kali dalam sehari ya.
Penutup
Sebagai konten kreator boleh saja terus menciptakan karya terbaiknya. Boleh saja terus selalu produktif untuk bisa menebar manfaat untuk banyak orang. Tapi perlu diingat dibalik semua karya terbaik ini, ada “rekan kerja" yang terus bekerja di balik layar semua ini. Mata menjadi bagian penting untuk semua orang.
Maka dari itu, penting sekali untuk tetap menjaga kesehatan mata. Jangan sampai dibiarkan apabila sudah muncul #mataSePeLeJanganSepelein. Segera sadari dan atasi dengan menggunakan tetes mata yang memiliki kandungan aktif seperti air mata. Sebagai air mata buatan, insto dry eyes efektif bantu agar kita #BebasMataKering
Kamu juga punya kebiasaan menatap layar yang cukup lama dalam sehari? Apakah pernah mengalami gejala yang sama? Boleh ceritain tips apa yang kamu lakukan agar mata tetap sehat di kolom komentar ya.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Referensi :
1. Mata kering - https://jec.co.id/id/article/sindrom-mata-kering
2. Mata kering tidak tertangani - https://jec.co.id/id/article/mata-kering-yang-tak-tertangani-dapat-akibatkan-kerusakan-permukaan-mata
3. Mata kering tidak diobati - https://www.newvisioneyecenter.com/blog/what-happens-if-dry-eyes-are-left-untreated/
4. Sinar Biru / Blue ligh - https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/bahaya-blue-light
5. Cara mengatasi mata sepet - https://www.halodoc.com/artikel/mata-sepet-artinya-kenali-yuk-cara-mudah-mengatasinya?srsltid=AfmBOoqUvlzXuWenQLgPDAB_m-j1n1Ti3PhpLvDUh9NICvH74H7afXPt
6. Insto dry eyes - https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes#product-canvas
7. Gambar infografis di olah menggunakan Canva









